Monday, November 24, 2008


KONTRADIKSI FEMINISME

Wanita/perempuan, pada jaman dahulu sering dianggap sebagai manusia yang sangat lemah, manusia yang selalu bergantung kepada lawan jenisnya/laki-laki. Dianggap sebagai manusia yang berbahaya (Reg Vega), manusia yang belum selesai (Aris Toteles), pintu gerbang syeitan (Paus Tertulianus), dan berbagai tuduhan lain yang sangat merendahkan kaum hawa tersebut. Pada zaman sekarang jangan kita pernah mengucapkan kata-kata rendahan tersebut karena wanita saat ini adalah wanita yang ingin disetarakan dengan kaum lelaki. Kita tentu masih ingat dengan emansipasi wanita yang di kumandangkan oleh Ibu R.A. Kartini dengan bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang”, pada saat itu semua wanita mulai tergugah hatinya bahwa mereka juga bisa berperang melawan penjajah.

Feminisme, hal yang satu ini bertujuan untuk menghapus hak istimewa atau semua batasan-batasan yang membedakan segala sesuatu melalui jenis kelamin. Jadi, wanita itu harus sejajar dengan pria bisa melakukan apa yang bisa dilakukan oleh pria. Tempat lahir ide ini adalah di tempat yang masih terdapat pelecehan terhadap wanita. Dan tempat itu adalah semua tempat yang menetapkan aturan adalah manusia. Dunia seakan-akan terbagi menjadi dua yaitu, dunia laki-laki dan dunia dunia perempuan. Mereka mengannggap mereka bisa hidup tanpa laki-laki. Hebaatttt……

Setelah dilecehkan selama-berabad-abad, sudah saatnya membalas hal tersebut dengan menghilangkan batasan-batasan tersebut, tidak ada lagi perbedaan antara laki-laki dan wanita. Wanita jangan lagi ngurusin dapur, ngepel, nyuci, masak dan terkurung disebuah tempat yang namanya rumah, sudah saatnya wanita yang nyari duit suami yang mengurus rumah. Anak-anak itu mah urusan baby sitter. Para feminisme liberal-radikal menganggap para pria sebagai kepala rumah tangga dan penentu keputusan atas segala sesuatu yang terjadi di rumah tangga adalah merupakan penindasan yang besar, jadi…saatnya wanita menjadi orang yang berhak juga menjadi warga kelas 1 dan membuat beberapa keputusan.

Mereka melihat hal ini terjadi karena kebanyakan system didunia ini dikuasai oleh laki-laki maka wanita harus dapat menguasai system yang ada, atau minimal setara dengan pria dalam pemerintahan. Wajar bila di Indonesia caleg wanita tiap partai haruslah berjumlah 30 % dari caleg keseluruhan, atau di Norwegia 39,4 %Denmark 30,3%, Finlandia 39%, Swedia 40%. Memang kekerasan terhadap wanita di negara-negara tersebut tidak sebanyak di Indonesia akan tetapi menimbulkan masalah lain, yaitu di Swedia dan Demark hampir 50% bayi yang lahir berasal dari ibu yang tidak menikah, 50 % perkawinan dinegara tersebut berakhir dengan perceraian. Ternyata feminisme hanya menjadi solusi parsial, disatu sisi menghilangkan tindakan pelecehan terhadap wanita tapi disisi lain menimbulkan gejala social yang tidak sehat.

Ide feminisme yang sejak lama didengungkan malah menjerumuskan wanita dalam masalah baru yang cukup pelik malah tidak menghilangkan permasalahan lama, pelecehan terhadap wanita masih terus berlangsung, di negeri George Bush(uk) kekerasan fisik terhadap wanita terjadi setiap 8 detik, dan Pemerkosaan terjadi setiap 6 menit. Gilaaaa…..kapitalisme sialan. Wanita ingin bebas, tapi bebas yang seperti apa ? kayak gimana ? wanita ingin maju, maju dari segi apa ? kayak gimana majunya ? wanita ingin setara, setara seperti apa ? mau dikemanakan pria? semuanya kacau, kagak jelas, konsepnya kabur apalagi solusinya.

1 comment:

Andretty Julian said...

disetarakan??mank bisa??coba buktiin..
kalo mo setara coba belajar dulu memaksimalkan penggunaan pikiran dan meminimalkan penggunaan perasaan..